Ayat Emas : 1 Tawarikh 24:3 “Daud, bersama-sama Zadok dari bani Eleazar dan Ahimelekh dari bani Itamar, membagi-bagi mereka menurut jabatan mereka dalam penyelenggaraan ibadah.”
Selain membagi tugas dan jabatan pelayanan menurut keturunan, Daud juga mengatur pembagian kelompok penatalayanan sesuai dengan jumlah yang ada dalam keturunan Eleazar dan Itamar. Daud menjalankan prinsip keadilan pada setiap kelompok sesuai dengan beban tanggung jawab dan kemampuan mereka.
Dalam beribadah di gereja, tugas pelayanan bukan hanya untuk sebagian orang saja yang duduk di kepengurusan, tapi merupakan tugas setiap orang percaya. Tuhan telah memberi karunia-karunia khusus kepada setiap orang beriman. Tapi yang perlu diperhatikan adalah jangan memaksa melakukan suatu bagian yang tidak dipercayakan kepada kita. Setiap kita melayani berdasarkan talenta dan kemampuan yang Tuhan karuniakan.
Pertanyaannya, sampai sejauh mana kita mendisiplinkan diri untuk mengembangkan karunia-karunia yang Tuhan percayakan? Jadi selain Tuhan memang sudah mengaruniakan talenta, kita juga dituntut untuk bertanggung jawab mengembangkan talenta tersebut agar hasil pelayanan kita menjadi maksimal.
Doa Tuhan, tambahkan pada kami kerinduan untuk selalu setia mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan pada kami. Amin. (AV)
Rabu, 15 Desember 2021 MELAYANI BERSAMA Bacaan Alkitab : 1 Tawarikh 23
Ayat Emas : 1 Tawarikh 23:28 “Tugas mereka ialah membantu anak-anak Harun untuk menyelenggarakan ibadah di rumah TUHAN, mengawasi pelataran, bilik-bilik dan pentahiran segala barang kudus serta melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan ibadah di rumah Allah.”
Salah satu peran penting Daud bagi keturunannya adalah kepiawaiannya mengatur jadwal pelayanan suku Lewi. Kepemimpinan Daud menjadi contoh bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sepenuh hati mengabdikan diri dalam tugas-tugasnya. Sikap Daud dilandasi atas konsep bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya telah menetapkan pribadi lepas pribadi untuk pelayanan Kudus. Daud tahu tempat dan perannya, demikian pula Salomo dan orang Lewi.
Sebagai orang percaya, dalam bergereja kita tidak dipanggil hanya untuk posisi atau jabatan tertentu. Masing-masing kita punya peran berbeda di dalamnya. Namun, tidak boleh ada yang merasa lebih dari yang lain. Karena ketika seseorang sudah “merasa” lebih penting, lebih senior atau lebih berperan dalam gereja, itu akan memunculkan sikap hati yang merendahkan orang lain, bahkan terhadap Hamba Tuhan sekalipun. Ingatlah bahwa gereja adalah tubuh Kristus, kita semua sama pentingnya di mata Tuhan. Biarlah Tuhan yang memberi penilaian, bukan kita.
Doa Tuhan, ajarkan pada kami untuk bisa memaksimalkan peran dalam bergereja sebagai bagian dari tubuh Kristus. Amin. (AV)
Selasa, 14 Desember 2021 DUKUNGAN SANG AYAH Bacaan Alkitab : 1 Tawarikh 22
Ayat Emas : 1 Tawarikh 22:11 Maka sekarang, hai anakku, TUHAN kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya mengenai engkau.
Daud menyadari bahwa ia telah ditolak oleh Tuhan untuk membangun bait Allah. Tangannya yang telah banyak melakukan pertumpahan darah dalam peperangan, tidak layak untuk membangun tempat suci, tempat yang nantinya menjadi kediaman Allah. Tak berkecil hati karena itu, justru ia mempersiapkan segala keperluan pembangunan rumah Tuhan ini dengan sebaik-baiknya. Semua bahan yang terbaik disediakan, agar rumah yang nantinya didirikan agung dan megah.
Kepada Salomo, anaknya yang dipilih Tuhan untuk membangun, diberikan bekal yang memadai. Tidak hanya material, tapi peneguhan dan restu darinya diberikan kepada Salomo, “Maka sekarang, hai anakku, Tuhan kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu” (ayat 11). Perlulah Daud memberikan dukungan moril bagi anaknya yang belum berpengalaman.
Sebagai orang tua, mari kita belajar dari Daud tentang bagaimana memberi dukungan kepada anak-anak kita. Dukungan finansial tidaklah cukup untuk membangun masa depannya. Anak-anak kita perlu sokongan moril, bahkan spiritual.
Doa Tuhan, ajari kami sebagai orang tua untuk tahu mempersiapkan dan memberikan apa yang diperlukan oleh anak-anak kami. Amin. (RM).
Hamba Tuhan, Majelis Jemaat, dan Jemaat GKMI Gloria Patri mengucapkan Selamat ulang tahun untuk: – Ibu Lysia Soelistiowati – Sdri. Joshepine Olivia Nathania Oey
Ayat Emas : 1 Tawarikh 21:1 Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.
Gegara rayuan Iblis, Daud menghitung jumlah penduduk Israel. Tidak salah sesungguhnya Daud mengetahui berapa banyak rakyat yang ia pimpin. Yang menjadi soal ialah motivasi di balik sensus ini. Daud ingin melihat seberapa besar pencapaian pribadinya. Semua keberhasilan yang terlihat oleh matanya dianggap sebagai hasil wajar dari kekuatan dan keterampilannya. Inilah kekeliruan raja Daud. Dan pada akhirnya tindakan ini berakibat bangsa Israel menerima hukuman dari Tuhan berupa penyakit sampar.
Kesombongan adalah salah satu dosa paling tua yang dilakukan oleh manusia. Kesombonganlah yang membuat Adam dan Hawa terpisah dari Allah. Peran Iblis sesungguhnya hanya sekadar sebagai pembujuk. Namun keputusan atau kata akhir ada pada manusia itu sendiri.
Dalam kehidupan kita sehari-hari kita diberondong oleh bujukan, rayuan dan provokasi dari si Jahat untuk melakukan sesuatu yang melawan kehendak Tuhan. Namun ketika kita membaca dan menghidupi firman Tuhan, maka kita bisa menangkal semua bujuk rayu dari Iblis. Karena itu tekunlah membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari.
Doa Tuhan, ampuni kami jika selama ini hati dan pikiran kami tidak kami serahkan kepada-Mu. Kehendak-Mulah yang jadi. Amin. (RM)
Ayat Emas : 1 Tawarikh 20:8 “Orang-orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya.”
Keberhasilan Daud dalam peperangan demi peperangan yang dilakukannya tidak terlepas dari campur tangan Allah. Termasuk peperangan melawan keturunan orang raksasa di Gat telah berhasil dimenangkan oleh Daud.
Istilah raksasa bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang sangat besar dan menakutkan. Dalam kehidupan terkadang kita harus berjumpa dengan “raksasa” yang sangat menekan kita, dan kekhawatiran adalah salah satunya. Dalam sebuah artikel, kekhawatiran digambarkan seperti suatu kabut yang sangat tebal bahkan sampai menutupi delapan blok sebuah kota dengan ketebalan sekitar 30 meter, ternyata itu hanyalah terbentuk dari kurang lebih satu gelas air yang kemudian memisahkan diri menjadi 60 juta butiran air.
Kekhawatiran bisa menjadi sebuah raksasa dalam kehidupan jika kita membiarkan diri dikuasai oleh situasi yang akhirnya membuat kita tidak lagi menaruh percaya kepada Tuhan. Kalahkan raksasa kekhawatiranmu dengan percaya sepenuhnya kepada firman Tuhan dan bersandarlah penuh kepada-Nya.
Doa Bapa, ampunilah kami karena seringkali lupa bahwa Engkau sanggup melakukan perkara-perkara yang besar dalam hidup kami. (HMD).
Pada umumnya, tokoh Simeon dan Hana digambarkan sebagai keteladanan pribadi yang telah berusia tua dan sabar dalam penantian kedatangan Mesias, yakni masa penghiburan atau kelepasan bagi bangsa Israel.
Namun sesungguhnya ada satu hal yang amat penting untuk kita pahami dari pribadi Simeon dan Hana yang dapat mempertajam sudut pandang kita tentang Yesus dan yang juga akan menggugah kita menjadi penyembah-penyembah Yesus dengan lebih bergairah, yakni: Bagaimanakah mereka (Simeon dan Hana) bisa dengan yakin 100% mengenali bayi Yesus adalah pribadi Mesias? Mengapa mereka berdua dapat sedemikian spontan dan akurat menyatakan tentang Yesus sebagai penggenapan atas janji kedatangan Mesias dengan sempurna?
Mengapa mereka? Apakah karena hanya mereka berdua yang menantikan hari penghiburan atau kelepasan bagi Israel? Apakah karena Simeon adalah seorang yang benar (righteous) dan saleh (devout) serta mendapatkan jaminan dari Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum bertemu Mesias? Apakah karena Hana adalah seorang nabiah yang sudah tua dan tidak pernah meninggalkan Bait Allah? Jika hal-hal ini menjadi persyaratannya, maka siapakah yang dapat hidup seperti mereka? Atau, siapakah diantara kita yang berani berkata bisa untuk meneladani pola hidup mereka, misalnya; ketuaan mereka, kesabaran mereka, kekuatan mereka sehingga dapat mengenali ke-Mesias-an Yesus?
Namun kita bersyukur bahwa Alkitab memberikan jawabannya! Simeon dan Hana sama seperti Petrus dapat menyingkapkan dengan akurat tentang keotentikan Yesus adalah Mesias hanya oleh karena Allah Bapa-lah yang mewahyukannya atau menyingkapkannya kepada mereka (Matius 16:17).
Sebab itulah mengapa setiap kita terpanggil agar senantiasa “dipenuhi oleh Roh Kudus”, yakni peka dengan pimpinan Roh Kudus (Efesus 5:18), dan menjadikan “tubuh” kita, yakni kehidupan kita dalam dunia ini, sebagai “persembahan yang hidup”, yakni kesaksian hidup tentang kehadiran Allah. Karena dengan demikian, kita baru bisa dimampukan untuk mengerti kebenaran dan kehendak Allah (Roma 12:1-2, Efesus 5:17-19), Sama seperti Rasul Paulus dapat dengan akurat menyatakan isi Injil oleh karena ia menerimanya semata-mata dari pewahyuan, yakni penyataan, dari Yesus Kristus secara pribadi (Galatia 1:12), demikian juga setiap orang dapat mengaku bahwa “Yesus adalah Tuhan” adalah hanya dimungkinkan oleh karena penyingkapan dari Roh Kudus (1 Korintus 12:3), yakni tentang pribadi dan karya Yesus dengan benar dan yang menggairahkan jiwa kita (2 Timotius 1:12, Yohanes 16:13).
Jadi, apabila kita mau berpola hidup sama seperti Simeon dan Hana yang “dipenuhi oleh Roh Kudus” dan mempersembahkan tubuh kita sebagai “persembahan yang hidup”, maka kita pun juga pasti digairahkan untuk hidup dalam “kesalehan” (kehidupan spiritual; ibadah dan pelayanan) yang produktif, yakni kesalehan hidup yang menghadirkan sukacita, damai sejahtera dan kasih dimanapun kita berada (Kolose 3:16-17).
Dan seperti halnya Simeon dan Hana, kita juga dapat menyatakan tanda atau karakter sebagai seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus atau memiliki panggilan kenabian (Lukas 2:25,27, 36), apabila kita adalah seorang pribadi yang menghayati Firman Allah. Karena tatkala Firman Allah memenuhi hati kita, maka hati kita menjadi seperti “Bait Allah” dimana suara Roh Kudus akan lebih mudah terdengar dan memimpin kita, sehingga kita dimampukan untuk memiliki kepekaan roh untuk mengenali, memahami dan menyatakan kebenaran tentang Yesus dan kehendak-Nya (Lukas 2:29-32,38).
Demikian juga, seperti halnya Simeon dan Hana, kita juga dapat “menatang” (meninggikan, mengakui) Yesus dan “berbicara” (bersaksi) tentang Yesus, apabila kita tetap setia menjalankan panggilan kita masing-masing walau harus dalam kesendirian atau kesepian dalam kurun waktu yang tak menentu tanpa dikenal oleh banyak orang atau istilah kekiniannya hanya mendapat sedikit “likes” atau “follower” bahkan nihil dari para “netizen” (sesama jemaat, rekan pelayanan atau keluarga). (Pdt. Yusuf Gunawan)