GP FAMS, foto tersebut menceritakan kepada kita seminar akhir zaman yang diikuti jemaat GKMI Gloria Patri pada tahun 2011. Gereja sebagai komunitas yang hidup tidak hanya menjadi tempat untuk mendengar firman Tuhan, tetapi juga menjadi wadah bagi jemaat untuk belajar hal apapun yang diinginkan. Maka, marilah kita menjadi gereja yang menjadi tempat dan sumber pembelajaraan yang ramah bagi semua generasi.
Ayat Emas : 1 Samuel 27:9 “Apabila Daud memusnahkan negeri itu, seorang pun tidak dibiarkannya hidup, baik laki-laki maupun perempuan; ia merampas kambing domba, lembu, keledai, unta dan pakaian, kemudian pulanglah ia dan kembali kepada Akhis.”
Daud semakin terjepit. Kondisinya tak memungkinkan untuk hidup leluasa, bahkan bila tak melarikan diri jauh dari Saul, Daud menduga bisa akan binasa di tangannya. Akhirnya dia melarikan diri ke daerah Filistin, tepatnya ke kota Gat.
Ada dua hal reflektif yang bisa kita dapatkan dari bacaan kita hari ini. Pertama, kita melihat penyertaan Tuhan kepada Daud, orang pilihannya. Bagaimana Tuhan memakai bangsa yang pernah menjadi musuh dari Israel, dipakai menolong Daud. Tuhan bisa memakai apa saja menolong orang-orang pilihan-Nya.
Yang kedua adalah dari teks yang kita jadikan ayat emas hari ini. Bagaimana Daud dan pasukannya menyerbu habis orang Gesur, Girzi dan Amalek yang notabene adalah orang-orang yang suka merampok penduduk di sekitar mereka. Penganggu, pengacau, yang bisa sewaktu-waktu Daud dan rombongannya akan menjadi korban oleh mereka. Musuh seperti ini dihabisi, tanpa sisa. Apa musuh kita saat ini? Godaan untuk mendosa. Apakah kita sungguh-sungguh mematikan musuh kita? Jangan-jangan ada yang masih kita sayang, karena kita ‘menikmati” di sana. Mari kita bertobat.
Doa Tuhan Yesus, mampukanlah aku untuk menjadi pribadi yang benci dosa. Dengan Sungguh-sungguh. Amin. (sb)
Mengundang segenap jemaat kelompok Bethlehem, Betania, dan Yerusalem untuk bergabung dalam persekutuan kelompok pada hari ini, pukul 19.00 WIB. Tuhan Yesus memberkati.
GP FAMS, foto tersebut menceritakan kepada kita momen membagikan bantuan kepada korban banjir Semarang pada tahun 2008. Bencana, seperti banjir memang pasti membawa rasa sedih, bahkan kekecewaan karena rumah yang mengalami dampak buruk dan kerugian. Namun, marilah kita sebagai murid-Nya responilah bencana atau waktu susah dengan senyum, karena dalam senyum kita percaya bahwa Tuhan pasti memulihkan keadaan kita.
Ayat Emas : 1 Samuel 26:9b Tetapi kata Daud kepada Abisai: “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?”
Memperhatikan konflik Saul vs Daud yang tiada henti, ada sesuatu yang menarik kita pelajari. Daud adalah orang yang lebih muda. Usia muda kerap digambarkan sebagai usia yang belum stabil, masih emosional, dan tak berpikir panjang. Tapi teks ini mencelikkan kita, bahwa yang muda tak selamanya tak bisa bertindak dewasa. Kepada seniornya, Daud yang terus dikejar-kejar dan diburu nyawanya, justru tak mau mencelakai alias membalas kejahatan Saul dengan menuruti kata hatinya. Daud mengajarkan kepada kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Apalagi Saul adalah orang yang diurapi oleh Tuhan (ayat 9 dan 11). Kiranya Allah yang berdaulat atas Saul (ayat 10). Itulah Daud.
Bukankah kadang kita geram dengan orang yang berlaku jahat atas kita? Kita tergoda membalas dengan lebih keras. Tapi hari ini kita diingatkan oleh Daud, dengan memberi ruang Tuhan yang menyelesaikan masalah kita dengan orang lain. Bukan kita yang bertindak.
Tapi satu hal yang sangat penting untuk kita tanyakan kepada diri sendiri. Jikalau kita saat ini sedang berkonflik, peran seperti apakah kita saat ini? Sebagai Saul ataukah Daud?
Doa Ya Tuhan, berdaulatlah atas hidupku. Termasuk dalam semua permasalahanku dengan orang lain. Amin. (sb)
GP FAMS, foto tersebut menceritakan acara gebyar talenta yang dilaksanakan oleh GKMI GP pada tahun 2010. Setiap manusia mempunyai talenta yang luar biasa, maka gereja perlu menghidupkan iman jemaatnya dengan menjadi wadah yang memfasilitasi segala bentuk talenta yang dimiliki jemaatnya.
KEMBALI PADA KEHENDAKNYA Bacaan Alkitab : 1 Samuel 25
Ayat Emas : 1 Samuel 25:32-33 Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.
Baru kemarin kita belajar bagaimana Daud begitu bijaksana dalam menghadapi situasi hidupnya. Tetapi hari ini kita membaca sebuah sisi lain Daud yang bertolak belakang. Maksud baiknya mengirim utusan kepada Nabal berbalas makian dan hinaan, “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu?” (ayat 10). Meresponi laku Nabal ini hati Daud sakit, sehingga dia ingin menuntut keadilan. Dengan amarah dia memimpin kira-kira empat ratus pengikutnya dan bersiap menuntut balas nyawa Nabal.
Di saat itu muncul Abigail, seorang perempuan bijak dan cantik. Mendengar kemarahan Daud, Abigail, istri Nabal itu, bergegas menemui Daud dan memohonkan ampun atas kesalahan suaminya. Juga, Abigail memperingatkan Daud untuk tidak mencari keadilan sendiri dengan melakukan hutang darah. Hati Daud tersentuh. Segera ia sadar lalu mengurungkan niatnya dan bersyukur kepada Tuhan (ayat 32). Pada akhirnya, Daud kembali ke tempat perlindungannya.
Tuhan dapat memakai berbagai cara untuk mengajar kita agar kembali kepada-Nya. Seperti halnya Abigail dikirimkan Tuhan bagi Daud, Tuhan juga bisa mengirim siapa saja untuk mengingatkan kita kembali kepada jalan-Nya.
Doa Ya Tuhan, kami bersyukur Engkau tempatkan orang-orang baik yang mengingatkan kami terus ada dalam kehendak-Mu. Amin. (hyk)
GP FAMS, foto tersebut menceritakan kepada kita momen mission trip ke Lampung yang dilakukan oleh GKMI GP pada tahun 2003. Sebuah rahasia umum jika melayani ke suatu daerah baru pastilah ada tantangan maupun rintangan yang harus kita lewati, seperti jalan yang sulit. Namun, tantangan maupun rintangan tersebut tidak menjadi alasan untuk tidak melayani. Mari hancurkanlah batas-batas yang ada agar TUHAN semakin didengar dan dikenal oleh siapapun.
“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28)
Dewasa ini, kata “melayani” menjadi sangat akrab di lingkungan kehidupan kita. Di berbagai profesi, kata melayani menjadi sangat penting. Para ASN (Aparatur Sipil Negara) melakukan tugasnya dengan melayani masyarakat. Penjaga toko melayani konsumennya sambil tersenyum. Polisi melayani pengemudi kendaraan dengan memberikan arahan yang baik agar tidak terjadi kemacetan. Bisa dikatakan bahwa hampir semua lini profesi memakai kata ini: MELAYANI.
Sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus, kita semua juga dituntut untuk melayani. Namun demikian, melayani seperti apa yang Tuhan Yesus inginkan kita lakukan?
Melayani seyogyanya dimulai dari pemuridan dan disempurnakan dalampemuridan.
Para murid telah cukup lama mengikut Tuhan Yesus. Mereka sejak awal, dikhususkan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya. Pengajaran dan tindakan Yesus menjadi proses belajar tatap muka yang diikuti oleh mereka. Jika tidak mengerti mereka bisa langsung menanyakan kepada Guru mereka, Tuhan Yesus. Walaupun demikian, waktu yang cukup lama, tidak menjamin apa yang Guru mereka sampaikan dapat mereka pahami dan lakukan dengan baik. Permintaan Yohanes dan Yakobus melalui Ibu mereka untuk mendapatkan tempat yang utama menjadi bukti bahwa mereka gagal menjadi murid yang baik. Walaupun demikian, Yesus tetap dengan sabar dan lembut mengajar mereka. Melayani adalah sebuah proses. Ketika proses diikuti dengan baik, maka hasil akhirnya juga akan menjadi seperti apa yang Guru mereka inginkan. Tujuan dari melayani adalah menjadi murid Yesus. Yesus mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…, SAMA SEPERTI Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (ayat 26,28). Proses menjadi “sama seperti” adalah proses pemuridan.
Melayani seringnya diikuti dengan pengorbanan.
Yesus berkata, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (ayat 28). Memberi adalah salah satu tanda yang kentara bagi kita yang melayani. Dan tak jarang, pelayanan kepada Tuhan menuntut pengorbanan yang harus kita berikan. Dalam sejarah, Yohanes dan Yakobus yang tadinya meminta keutamaan dan keuntungan dalam kepengikutan mereka kepada Yesus, pada akhirnya mempraktikan kemuridan mereka yang sejati kepada Yesus dengan menjadi martir. Yakobus menjadi martir pertama di antara para rasul (Kisah 12:2). Sedangkan, Yohanes mengalami pembuangan di Pulau Patmos dan penyiksaan yang luar biasa.
Yesus ingin kita melayani. Ia ingin kita melayani supaya kita makin disempurnakan sebagai murid-Nya. Ia ingin kita melayani sama seperti Ia melayani: memberi dan siap berkorban. Semoga Tuhan memampukan kita. Amin. (Jakson Rumagit).