Renungan iGrow 6 Juli 2022 – Sion, Tempat Kesukaan Allah

https://youtu.be/cwtrHRohWqk

Rabu, 6 Juli 2022
SION, TEMPAT KESUKAAN ALLAH
Bacaan Alkitab: Mazmur 87

Ayat Emas: Mazmur 87:7
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: “Segala mata airku ada di dalammu.”

Pemazmur membicarakan Sion dengan sebuah perasaan bangga yang tak terkira. Di sana, kota Allah dibangun. Di kota itu, hal-hal mulia dikatakan. Ia menjadi kota kesukaan Allah. Di atas tempat itu lambang pemerintahan Tuhan didirikan dan ditegakkan, bukan hanya atas Israel tetapi juga atas seluruh bangsa.

Sebagai bagian dari bangsa pilihan Allah, maka pemazmur sedang mengajak umat Israel untuk melihat bagaimana mereka harus bangga dengan kota Sion. Kota ini bukan mereka yang dirikan, tetapi Allah yang dirikan. Kota ini adalah lambang bukan hanya sebagai lambang pemerintahan Tuhan, tetapi juga lambang anugerah Tuhan bagi mereka. Mereka dipilih bukan karena kehebatan mereka tetapi mereka dilahirkan di sana karena anugerah Tuhan. Tuhan jugalah yang menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Seperti orang Israel, sesungguhnya tidak ada satupun yang layak dari diri kita yang membuat Tuhan harus sayang dan menyukai kita. Kita menjadi orang pilihan lebih karena anugerah Tuhan. Kita dilahirkan oleh anugerah dan dipimpin oleh anugerah. Tuhan jugalah yang menyediakan apa yang diperlukan. Itulah sebabnya kita tidak bisa menyombongkan diri atas semuanya itu. Hanya oleh kebaikan-Nya saja kita bisa tetap ada hari ini.

Doa
Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu yang luar biasa besar dalam hidup kami. Amin. (AV)

Alkitab Audio

Morning Devotion GP Kids – 5 Juli 2022

Renungan, 5 Juli 2022

Yakobus 4:6b
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Selamat pagi anak-anak GP Kids.

Di dalam Alkitab, seringkali kita menemukan adanya ayat-ayat yang berisi teguran atau peringatan agar tidak berbuat dosa. Ayat-ayat ini ditulis oleh para penulis Alkitab melalui ilham Roh Kudus supaya anak-anak Tuhan tahu hal-hal apa yang seharusnya kita lakukan, dan apa yang seharusnya kita hindari. Salah satu teguran yang cukup sering kita jumpai di dalam Alkitab ditujukan kepada orang-orang yang sombong/congkak.

Manusia memang mudah untuk menjadi sombong. Ketika kita mengalami keberhasilan (nilai sekolah bagus, mendapat pujian dari orang lain karena kepandaian atau fisik kita), dosa dan kedagingan membuat kita mudah “besar kepala” dan merasa bahwa keberhasilan kita adalah semata-mata karena kehebatan kita sendiri. Tetapi di ayat di atas, Yakobus berkata bahwa orang yang congkak (sombong) ditentang Allah, tetapi sebaliknya orang yang rendah hati dikasihani. Mengapa Allah sangat memandang orang yang rendah hatinya?
Manusia seringkali lupa siapakah mereka sebenarnya. Roma 3:10 berkata “tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.” Ini artinya semua manusia, tanpa terkecuali. adalah orang berdosa yang butuh belas kasihan dari Allah. Jikalau ada hal yang baik dalam diri kita, itu sendiri adalah anugerah dari Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang menyadari hal ini. Kesombongan seringkali menghalangi orang untuk menyadari kelemahannya, sehingga merasa tidak butuh pertolongan dari Tuhan. Itulah mengapa Tuhan sangat menentang orang yang sombong.

Bagaimana dengan masing-masing kita? Adakah sedikitpun di dalam diri kita hal-hal yang kita sombongkan? Kiranya Roh Kudus memampukan kita semua untuk senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan kesadaran bahwa hanya anugerah Tuhan saja yang memampukan kita untuk melakukan yang baik dan mendapat keberhasilan di hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

-Ko Dimas-

Renungan iGrow 5 Juli 2022 – Kuangkat Jiwaku dalam Doa

https://youtu.be/CtAF0fuKMHc

Selasa, 5 Juli 2022
KUANGKAT JIWAKU DALAM DOA
Bacaan Alkitab: Mazmur 86

Ayat Emas: Mazmur 86:4
Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.

Doa menjadi sangat lazim bagi kita orang percaya. Saking terlalu biasa maka doa kita pun menjadi sangat mekanik. Tanpa disuruh, begitu duduk di sekitar meja yang di atasnya tersaji makanan, maka spontan mata kita ditutup dan tangan kita dilipat, dan mulailah kita berdoa, entahkah bersuara keras atau dengan suara hati. Nah, bisa jadi, saat ini doa yang akhir-akhir ini kita naikkan telah menjadi sangat biasa dan kehilangan nyawanya.

Pemazmur dalam doanya tetap menjaga apinya dalam berdoa, sehingga tidak sekadar aktivitas yang mekanik. Dia jauh dari kata jenuh. Mengapa? Inilah yang menjadi rahasianya, “Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku” (ayat 4). Daud mengangkat jiwanya kepada Tuhan. Dan akibatnya, Tuhan membuatnya tetap bersukacita di dalam doa.

Mari kita cek diri kita di hadapan Tuhan dalam hal disiplin doa kita. Apakah kita sedang jenuh dan merasa berat untuk berdoa? Apakah kehidupan doa dan kerohanian kita kering dan tidak bergairah? Bisa jadi, jiwa kita tidak pernah terarah dan terangkat kepada-Nya. Kalau demikian, berdoalah seperti Daud, “Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.”

Doa
Tuhan, tolonglah agar jiwa kami selalu terhubung kepada-Mu. Buatlah jiwa kami selalu bersukacita. Amin. (JeRu)

Alkitab Audio

Renungan iGrow 4 Juli 2022 – Ketika Susah Melanda

https://youtu.be/NwDoUN2ToWM

Senin, 4 Juli 2022
KETIKA SUSAH MELANDA
Bacaan Alkitab Mazmur 85

Ayat Emas: Mazmur 85:5
Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.

Masa sukar yang kita alami bisa disebabkan oleh macam-macam hal. Salah satunya adalah teguran Tuhan karena dosa dan pelanggaran yang kita lakukan. Israel demikian halnya. Mereka dibuang Tuhan ke negeri pembuangan karena dosa mereka menumpuk di mata Tuhan. Oleh kasih Tuhan, mereka dibawa pulang. Namun pemulihan belum sepenuhnya terjadi, perkenanan Tuhan belum dinikmati secara sempurna.

Di dalam situasi susah, inilah yang diajarkan oleh pemazmur kepada seluruh umat, melalui sebuah doa yang berjudul, “Doa mohon Israel dipulihkan.” Inilah isi dari doa itu: ingat akan kebaikan Tuhan di masa lalu (ayat 2-4), mohon kemurahan Tuhan di masa susah (ayat 5-8), dan memiliki iman serta pengharapan yang tidak tergoyahkan di dalam menanti jawaban Tuhan (ayat 9-14).

Doa ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Kita mungkin sedang bergumul berat dengan kesusahan yang melanda. Di saat seperti itu, kita perlu menaikkan doa seperti yang diajarkan pemazmur ini, “doa ketika susah melanda.” Tetaplah bersyukur untuk kebaikannya di masa lampau, mohon Tuhan tidak meninggalkan kita, dan miliki iman dan pengharapan yang kokoh nan kuat.

Doa
Tuhan, kami bersyukur untuk kasih dan setia-Mu di sepanjang jalan hidup kami. Amin. (JeRu)

Alkitab Audio

Morning Devotion GP Kids – 4 Juli 2022

Renungan, 4 Juli 2022

Mazmur 34:14
“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”

🌸 Selamat pagi anak-anak GP Kids 🌸

Berbohong atau berdusta adalah satu pelanggaran yang hampir semua orang pernah melakukannya.
Bahkan hal berbohong atau berdusta ini seringkali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan dianggap sebagai kesalahan yang biasa. Apakah betul demikian?
Ketahuilah bahwa berkata bohong atau dusta merupakan “DOSA”.
Berbohong atau berdusta adalah perbuatan yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
Bohong atau dusta adalah salah satu dosa lidah yang sangat berbahaya dan harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan orang percaya.
Bohong atau dusta sumbernya dari Iblis, karena Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

Sebagai orang percaya kita harus dapat menjaga lidah kita dari ucapan-ucapan yang menipu. Jika tidak, kita bukan hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, tapi juga mempermalukan nama Tuhan.
Berhati-hatilah, bohong atau dusta adalah dosa yang mengikat.
Sekali orang berani berbohong ia akan cenderung untuk terus berbohong dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan.

Tuhan Yesus mengasihi kita semua ❤

⚘️Tante Sulis⚘️

Kebaktian Umum GKMI Gloria Patri Minggu, 3 Juli 2022 – Oleh: Ev. Andrey Thunggal

Sendiri yang Berarti
1 Korintus 7:7-8; 32-34a

Apakah Anda pernah mendengar pertanyaan orang yang begini: “Kok umur segini belum nikah?” Ataukah Anda mendengar ujaran orang seperti ini: “Wah, sayang ya baru umur segini udah menjanda….” Atau pula yang ini: “Sstt.. dia kan nggak nikah, hati-hati ya…” Ujaran-ujaran demikian biasanya membuat sebagian besar orang menjadi terganggu, apalagi generasi milenial yang sangat sensitif dengan isu kesendirian ini. Konstruksi sosial yang berlaku di budaya kita memang mengharuskan bahwa hidup yang normal itu adalah ketika seseorang berpasangan atau menikah. “Kalau udah gede, nanti pacaran, lalu menikah, dan punya anak.” Lantas bagaimana jika tidak berpasangan? Bagaimana jika tidak menikah? Keadaan ini dianggap sebagai sebuah kerugian, bahkan dalam beberapa kasus dianggap sebagai kutukan.

Hal ini sesungguhnya tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Di dalam 1 Korintus 7 Paulus menuliskan panjang lebar soal realitas pernikahan yang berada di tengah jemaat Korintus. Secara khusus Paulus menyoroti soal keadaan sebagian kecil jemaat yang tidak menikah. Dalam hal ini Paulus mengingatkan bahwa mereka yang tidak menikah supaya “baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.” Secara tradisi, Paulus memang dikenal sebagai seorang rasul yang melayani Tuhan dengan sepenuh dirinya, bahkan ia pun tidak menikah. Dapat dikatakan bahwa Paulus memang mengkhususkan diri untuk tidak menikah, dan berfokus pada misi pekabaran Injil bagi kaum non-Yahudi. Karena itulah Paulus mengingatkan bahwa kesendirian bukanlah sebuah kerugian, melainkan sebuah kesempatan untuk melayani Tuhan dengan penuh fokus. Orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya
(ay. 32).

Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa orang yang menikah tidak dapat melayani Tuhan. Sangat mungkin sekali, bahwa dua orang yang mengasihi Tuhan, akan semakin efektif melayani Tuhan dalam sebuah pernikahan bukan? Namun tentu yang Paulus sampaikan di sini bukanlah lebih baik sendiri atau menikah, melainkan bagaimana hidup yang secara utuh dipersembahkan untuk melayani Tuhan. Jadi baik menikah atau belum menikah, ataukah bahkan jika nanti tidak menikah; hidup haruslah tetap bermakna dan melayani Tuhan.

Apalagi kondisi pandemi Covid-19 belakangan ini memukul sebagian besar kita, bahkan ada pula di antara kita yang mungkin kehilangan pasangan kita. Tidak dapat dipungkiri, ada rasa kesepian karena selama ini kita terbiasa hidup bersama pasangan. Namun sekali lagi, baik berpasangan atau tidak, hidup ini akan berarti ketika kita arahkan untuk melayani Tuhan. Tuhan memberkati kita semua.