Renungan iGrow 19 April 2022 – Menaruh Harap pada-Nya

https://youtu.be/H9fFG-aEqaE

Selasa, 19 April 2022
MENARUH HARAP PADANYA
Bacaan Alkitab : Mazmur 9

Ayat Emas : Mazmur 9:11
Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.

Dalam beberapa bab yang sedang kita baca, kita belajar dari Daud, seorang yang telah diurapi menjadi raja atas Israel namun menghadapi berbagai tantangan sebelum dan bahkan hingga sesudah ia diangkat menjadi raja. Ia dikejar dan nyaris binasa oleh orang-orang yang membencinya.

Mazmur demi mazmur ditulis oleh Daud sebagai ekspresi imannya kepada Allah, yaitu Pribadi yang telah membuat setiap musuhnya mundur dan jatuh. Ia mengungkapkan bagaimana Allah bekerja dengan cara yang luar biasa di dalam perjalanan hidupnya. Daud bukanlah seorang yang sempurna, tetapi ia menyatakan kepercayaannya kepada Sang Penolong ajaib yang tidak pernah meninggalkan setiap orang yang mencari-Nya. Di sanalah Daud menempatkan dirinya, yaitu menjadi pencari Tuhan sepanjang hidupnya.

Bagi kita yang percaya, janji yang sama Tuhan berikan. Asalkan kita tetap menjaga iman kita, bahkan kita menjadi pribadi-pribadi yang mencari Dia. Rindu hidup dalam hadirat dan pelukan-Nya. Teruslah berpegang kepada-Nya hingga kemenangan demi kemenangan kita nikmati, sebab takkan ditinggalkan-Nya orang yang menaruh harap kepada-Nya.

Doa
Kami rindu ya Tuhan, hidup kami tetap setia kepada-Mu, Pribadi yang setia menjaga dan menopang setiap umat yang mencari wajah-Mu. Amin. (hyk)

Alkitab Audio

Morning Devotion GP Kids – 19 April 2022

Selamat pagi anak-anak kesayangan Tuhan Yesus 🤗🤗🤗

Hari ini Tante Vita pengen mengajak anak-anak belajar tentang Garam.

Semua pasti tahu rasanya garam…asin…
Di setiap dapur rumah pasti ada garam.
Makanan tanpa garam tidak enak, hambar.
Kalau dipikir-pikir, kenapa ya cuma garam aja kok sampai dibahas dalam Alkitab ya🤔

Hmmm…. berarti penting ya anak-anak. Mari kita baca ayat firman Tuhan dari:

Matius 5:13
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”😱😱

Yesus menggunakan garam sebagai perumpamaan kepada pengikut-NYA, bahwa mereka harus memiliki rasa, dan membuat rasa untuk orang-orang di manapun mereka berada.
Makanya Yesus menyebut kita anak-anak-NYA, sebagai garam dunia🌎

Garam berfungsi sebagai pengawet, jaman dulu sebelum ada kulkas, garam digunakan untuk mengawetkan daging, ikan, dan bahan makanan lainnya agar tidak membusuk.
Singkatnya garam benar-benar dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati pada saat makanan segar tidak tersedia.
Itu fungsi garam untuk makanan.

Lalu maksudnya apa dengan perkataan Tuhan Yesus yang menyebut kita sebagai garam dunia?🤔

Artinya:
Kita sebagai anak-anak Tuhan Yesus harus memiliki pengaruh yang baik di manapun kita berada, di sekolah, di antara teman-teman, ataupun di lingkungan perumahan kita.

Seorang Kristen harus ada di dunia, namun bukan hidup serupa dunia. Bagaimana ini bisa terjadi? …..renungkan sebentar ya anak-anak…
Perhatikan
Ikan yang tinggal di laut yang asin, tetapi ikan tersebut tidak terasa asin.
Artinya
Walaupun kita hidup di dunia ini, banyak teman berbuat curang, bohong, menyontek, tidak taat kepada orang tua dan guru. Kita tidak perlu ikut-ikutan untuk bisa diterima.

Anak-anak harus bisa memilih tetap pada pendirian; “Aku anak Tuhan, dipilih oleh Tuhan untuk menjadi garam dunia“.
Anak-anak bisa berdoa untuk teman-teman yang masih bersikap tidak baik, minta tolong kepada Tuhan Yesus bagaimana caranya untuk menolong temanmu yang tidak taat, suka bohong atau melawan orang tua dan guru.

Milikilah visi untuk memberi rasa seperti garam dan pengaruh yang baik di manapun anak-anak berada.

-Tante Vita-

Morning Devotion GP Kids – 18 April 2022

Titus 3:5-6
Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.

HADIAH & HUKUMAN

Anak-anak, hadiah 🎁diberikan jika seseorang bisa berprestasi atau berhasil dalam suatu tugas. Nah untuk bisa berhasil/berprestasi pasti diperlukan usaha ya. Sedang hukuman ⛓diberikan ketika seseorang melakukan kesalahan atau melanggar aturan yang ditetapkan.
Itulah yang berlaku di dunia ini.

Berbeda dengan hadiah yang diberikan Tuhan yaitu hadiah keselamatan. Diberikan bukan karena usaha atau perbuatan baik yang kita lakukan. Hanya karena Tuhan mengasihi kita🤍.
Begitu juga dengan hukuman, harusnya manusia dihukum karena dosa-dosanya. Tapi Tuhan Yesus rela menggantikan, Ia mati di kayu salib ✝️ agar kita bisa bebas dari hukuman🔥. Itu semua karena kasih karunia atau anugerah Tuhan
Betapa Tuhan itu baik ya anak-anak.

Nah syarat untuk menerima hadiah yang tak ternilai harganya adalah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Setelah diselamatkan, Tuhan mau kita juga mengajak dan mendoakan saudara/teman yang belum kenal Tuhan, agar mereka juga menerima hadiah keselamatan👼🏻dan bebas dari hukuman🔥.

-Tante Evy-

Renungan iGrow 18 April 2022 – Ciptaan yang Mulia

https://youtu.be/ncSnbFOyYOQ

Senin, 18 April 2022
CIPTAAN YANG MULIA
Bacaan Alkitab : Mazmur 8

Ayat Emas : Mazmur 8:4-5
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?.

Tidak ada yang meragukan keindahan langit malam cerah bertabur jutaan bintang. Siapapun tentu sepakat mengakui betapa memesonanya pemandangan langit malam. Di sanalah, kita bisa melihat kebesaran Allah.

Di tengah ciptaan Allah yang begitu megah, manusia nampak seperti debu halus yang tak berharga. Namun, ciptaan yang kecil dan tak berharga tersebut rupanya adalah buatan tangan Allah yang sempurna. Kitab Kejadian mencatat bahwa Allah menenun manusia seturut gambar-Nya sendiri dan kepadanya Allah mengaruniakan kuasa atas segala ciptaan yang ada. Sebuah tanggung jawab besar diemban oleh manusia sebagai pemelihara alam semesta. Namun, dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Bdk. Roma 3:23). Kehilangan kemuliaan Allah berarti menjadikan manusia kehilangan kelayakan di hadapan-Nya.

Apakah manusia? Kalimat yang diungkapkan ini mengajarkan kepada kita betapa rendah hatinya seorang Daud, yang mengakui kehinaannya di hadapan Allah. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita memiliki kerendahan hati yang sama, ataukah sebaliknya?

Doa
Ajarlah kami ya Tuhan, agar kami mengingat setiap karya-Mu hingga kami semakin setia kepada-Mu. Amin. (uni)

Alkitab Audio

Renungan iGrow 17 April 2022 – Berlindung dalam Kediaman Allah

https://youtu.be/AuscMiouFdY

Minggu, 17 April 2022
BERLINDUNG DALAM KEADILAN ALLAH
Bacaan Alkitab : Mazmur 7

Ayat Emas : Mazmur 7:11-12
Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Daud menulis Mazmur ini sebagai respon akan ketidakadilan yang dialaminya, karena Kush sekutu Saul. Mungkin banyak di antara kita yang pernah mengalami hal seperti pemazmur ini, khususnya bagi seorang karyawan atau pekerja kantoran. Ketika kita merasa sudah berjalan sesuai “rule” yang tepat, dan melakukan segala tugas dengan benar, tapi masih dianggap salah, pasti kita akan berontak. Tidak terima dengan segala perlakuan yang diberikan kepada kita, sehingga membuat kita menjadi orang yang selalu mencari pembenaran diri.

Akan tetapi, hari ini kita diajak untuk belajar dari sikap pemazmur ketika ia mengalami pelbagai tuduhan yang ditujukan kepadanya. Pertama, ia datang kepada Tuhan untuk meminta perlindungan (ayat 2). Kedua, ada kerendahan hati menguji diri sendiri, jika memang benar ia salah, maka ia layak dihukum (ayat 4-6; 9). Ketiga, memercayai akan keadilan dan pertolongan Tuhan bagi orang-orang yang tulus hatinya (ayat 11). Keempat, tetap bersyukur dan memuliakan nama Tuhan (ayat 18).

Mari serahkan hidupmu pada Tuhan, izinkan Ia yang bertindak dengan keadilan-Nya untuk menunjukkan kebenaran kepada setiap orang (bdk. Mazmur 37:5-6).

Doa
Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkau adalah Hakim yang adil bagi orang-orang yang tulus hati. Amin. (uni)

Alkitab Audio

Kebaktian Paskah GKMI Gloria Patri Minggu, 17 April 2022 – Oleh: Pdt. Yusak B. Setyawan

Rindu Bangkit Bersama Dia
“Jadi jika telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.”
(Roma 6:8)

Benarkah kita merindukan bangkit bersama dengan Kristus? Kerinduan mencakup pengalaman kompleks yang melibatkan pengalaman perjumpaan pada masa lampau, cinta, percaya (trust), harapan, dan perjumpaan kembali. Kerinduan adalah keinginan untuk menghadirkan kembali masa lalu dalam masa kini bersama orang yang kita rindukan.

Kitab-kitab Perjanjian Baru menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah fondasi iman Kristen dan fondasi Kekristenan. Tanpa peristiwa Kebangkitan Kristus yang diimani, tidak ada Kekristenan, tidak ada persekutuan iman, tidak ada gereja seperti yang kita kenal seperti ini. Itu sebabnya sejak dari awal terbentuknya kekristenan, pengikut Kristus percaya akan kebangkitan Kristus, bersaksi akan kebangkitan Kristus, memberitakan kebangkitan Kristus dan tidak takut menghadapi penganiayaan, penyiksaan, dan bahkan kematian untuk membela iman akan Kristus, iman akan kebangkitan Kristus.

Peristiwa kebangkitan dikenang dan dirayakan, setiap hari pertama, sebagai hari Kemenangan Tuhan. Karena dalam peristiwa kebangkitan, Kristus telah menang atas kematian, kehidupan mengalahkan maut, dan bahwa Tuhan Allah menunjukkan kuasa-Nya. Dengan kebangkitan, ditegaskan bahwa karya dan pelayanan Kristus di muka bumi, sampai pada kesengsaraan di kayu salib, dan mati serta dikuburkan, tidak berhenti. Kebangkitan menunjukkan bahwa karya Allah terus berlanjut, dan bahwa pengikut-pengkut Kristus terus dipanggil melanjutkan karya Kristus.

Pada masa yang paling awal, pengikut-pengikut Kristus mewartakan kabar kebangkitan Kristus yang terangkai dengan kabar bahwa Kristus menderita, disalib, mati, dan dikuburkan serta menampakkan diri. Pada paruh pertama abad pertama, telah ditemukan pengikut-pengikut Kristus yang tersebar di wilayah-wilayah Asia Kecil (Turki), Syiria, Mesir, Roma, di hampir seluruh wilayah yang pada saat itu dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Pada tahun 40an, ketika pengikut Kristus berkembang dan jumlahnya semakin banyak, di Antiokhia (Syiria), mereka disebut sebagai Kristen.

Dalam bahasa Yunani, Kristen, Kristianos: berarti orang-orang yang hidup di dalam kekuasaan Kristus, orang yang bersatu dengan Kristus. Karena itu, Roma 6: 8 menegaskan: “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia, Karena kita tahu, bahwa Kristus sedudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi, maut tidak
berkuasa atas Dia.” Pada tahap ini, dalam peristiwa kebangkitan, dan yang sesudahnya, murid-murid Kristus tidak hanya mengimani Kristus dengan mengikut Kristus dan ajaran-Nya, melainkan menjalani iman akan Kristus sebagai bersatunya diri dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Maka ketika Hans Denk mengatakan: “No one may truly know Christ except one who follows Him in life” (Tidak seorangpun dapat benar-benar mengenal Kristus kecuali orang yang mengikuti Dia dalam kehidupan”), tokoh gereja Mennonite tersebut hanya mengungkapkan sebagian kecil dari kebenaran iman Kristen. Sebagaimana ditegaskan dalam Surat Roma, tidak cukup menjadi pengikut Kristus, melainkan menjadi Kristen yang berarti menjadi bersatu dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Menjadi Kristen dengan mengaku iman, confesio Christi mesti berlanjut menjadi conformatio Christi, dan menjadi unio cum Christo (bersatu dengan Kristus).

Kalau mengimani Kristus hanya sekadar mengucapkan pengakuan iman, beribadah pada hari Minggu, dan melayani sesuai dengan tugas dan panggilan, -dan itu sangat amat penting tetapi tidak cukup-, maka Kekristenan akan berubah menjadi sekedar agama. Jika Kekristenan hanya
sekedar mengikut Kristus, maka Kekristenan berubah menjadi sekadar etika. Esensi dari iman Kristen adalah bersatu dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Esensi inilah yang menghidupi seluruh kehidupan Kristen, gereja, pelayan, relasi, komunikasi, kinerja dan kiprah orang Kristen.

Kemenangan Kristus atas kematian, seharusnya menjadi kekuatan bahwa kita dapat menjalani kehidupan dalam berbagai macam situsai bahkan yang paling berat sekalipun dengan kekuatan Tuhan. Hanya dengan bersatu dengan Kristus kita dijadikan tabah, kuat, tahan banting, dalam menjalani kehidupan bahkan yang paling sukar sekalipun. Paskah adalah kemenangan Tuhan. Do Minggo. Dan Kemenangan kita. Amin. (Pdt. Yusak B. Setyawan,MATS,Ph.D)