Kebaktian Umum GKMI Gloria Patri, Minggu 12 September 2021 – Oleh: Bp. Herdyawan Yoga K

MURAH HATI SEPERTI YESUS (LUKAS 6:36)

Pelayanan Tuhan Yesus di tengah dunia adalah pelayanan yang didasari oleh visi Kerajaan Allah, bahkan seluruh kehidupan-Nya adalah untuk Kerajaan Allah. Kerajaan Allah di sini berbicara tentang kuasa dan pemerintahan Allah yang penuh bela rasa demi keselamatan manusia. Di dalam perjalanan hidup-Nya di dunia, Tuhan Yesus pun membawa nilai-nilai Kerajaan Allah yang tentunya tidak sama dengan nilai-nilai duniawi. Bukan sekadar mengajarkan, namun Tuhan Yesus memraktikkannya di dalam keseharian yang dijalani-Nya. Kita ingat bagaimana Ia memerhatikan perempuan yang kedapatan berzina, anak-anak, orang miskin, bahkan orang-orang yang karena tradisi masa itu dianggap sebagai sampah masyarakat semacam penderita kusta.

Salah satu pengajaran agung yang Tuhan Yesus sampaikan di dalam pelayanan-Nya adalah perihal kasih. Dunia, seperti halnya hukum Taurat mengajarkan bahwa manusia harus mengasihi sesama dan membenci musuhnya. Namun, tidak demikian dengan Tuhan Yesus. Ia mengajarkan sebuah hal yang “beyond”, melebihi apa yang Taurat ajarkan, yaitu mengasihi sesama dan juga orang yang memusuhinya. Berbuat baik sekaligus memintakan berkat orang yang mengutuk dan mencaci menjadi penekanan yang disampaikan-Nya pula. Sebab bagi Tuhan Yesus, ketika kita mengerjakan kebaikan pun mengasihi orang yang mengasihi kita, itu masih sama dengan standar yang dunia ajar dan tawarkan.

Sebagaimana Allah penuh dengan kemurahan hati, hendaklah dan haruslah kita hidup dalam kemurahan hati. Sebagaimana Allah telah memberikan kemurahan-Nya bagi kita, hendaklah dan haruslah kita menebarkan kemurahan hati untuk semua orang. Karena kita adalah murid, yang hidup mengikuti teladan Sang Sumber kemurahan hati yaitu Tuhan Yesus. (herdyawan yoga k.)

Kebaktian Umum GKMI Gloria Patri Minggu, 5 September 2021 – Oleh: Pdt. Jakson Rumagit

MELAYANI SEPERTI YESUS

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28)

Dewasa ini, kata “melayani” menjadi sangat akrab di lingkungan kehidupan kita. Di berbagai profesi, kata melayani menjadi sangat penting. Para ASN (Aparatur Sipil Negara) melakukan tugasnya dengan melayani masyarakat. Penjaga toko melayani konsumennya sambil tersenyum. Polisi melayani pengemudi kendaraan dengan memberikan arahan yang baik agar tidak terjadi kemacetan. Bisa dikatakan bahwa hampir semua lini profesi memakai kata ini: MELAYANI.

Sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus, kita semua juga dituntut untuk melayani. Namun demikian, melayani seperti apa yang Tuhan Yesus inginkan kita lakukan?

Melayani seyogyanya dimulai dari pemuridan dan disempurnakan dalam pemuridan.

Para murid telah cukup lama mengikut Tuhan Yesus. Mereka sejak awal, dikhususkan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya. Pengajaran dan tindakan Yesus menjadi proses belajar tatap muka yang diikuti oleh mereka. Jika tidak mengerti mereka bisa langsung menanyakan kepada Guru mereka, Tuhan Yesus. Walaupun demikian, waktu yang cukup lama, tidak menjamin apa yang Guru mereka sampaikan dapat mereka pahami dan lakukan dengan baik. Permintaan Yohanes dan Yakobus melalui Ibu mereka untuk mendapatkan tempat yang utama menjadi bukti bahwa mereka gagal menjadi murid yang baik. Walaupun demikian, Yesus tetap dengan sabar dan lembut mengajar mereka. Melayani adalah sebuah proses. Ketika proses diikuti dengan baik, maka hasil akhirnya juga akan menjadi seperti apa yang Guru mereka inginkan. Tujuan dari melayani adalah menjadi murid Yesus. Yesus mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…, SAMA SEPERTI Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (ayat 26,28). Proses menjadi “sama seperti” adalah proses pemuridan.

Melayani seringnya diikuti dengan pengorbanan.

Yesus berkata, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (ayat 28). Memberi adalah salah satu tanda yang kentara bagi kita yang melayani. Dan tak jarang, pelayanan kepada Tuhan menuntut pengorbanan yang harus kita berikan. Dalam sejarah, Yohanes dan Yakobus yang tadinya meminta keutamaan dan keuntungan dalam
kepengikutan mereka kepada Yesus, pada akhirnya mempraktikan kemuridan mereka yang sejati kepada Yesus dengan menjadi martir. Yakobus menjadi martir pertama di antara para rasul (Kisah 12:2). Sedangkan, Yohanes mengalami pembuangan di Pulau Patmos dan penyiksaan yang luar biasa.

Yesus ingin kita melayani. Ia ingin kita melayani supaya kita makin disempurnakan sebagai murid-Nya. Ia ingin kita melayani sama seperti Ia melayani: memberi dan siap berkorban. Semoga Tuhan memampukan kita. Amin. (Jakson Rumagit).