Renungan iGrow 14 September 2021 – Hentikan Peperangan

HENTIKAN PEPERANGAN
Bacaan Alkitab : 2 Samuel 2

Ayat Emas : 2 Samuel 2:26
Berserulah Abner kepada Yoab: “Haruskah pedang makan terus-menerus? Tidak tahukah engkau, bahwa kepahitan datang pada akhirnya? Berapa lama lagi engkau tidak mau mengatakan kepada rakyat itu, supaya mereka berhenti memburu saudara-saudaranya?”

Pertarungan paling menyesakkan adalah bila terjadi dalam keluarga sendiri. Yang seharusnya saling berbagi kasih, saling menghangatkan cinta, saling memberi, saling menolong, saling memperhatikan, tetapi justru saling bermusuhan. Tiada habis. Termasuk pasangan suami-istri bukan? Tuhan yang sudah menyatukan dengan kasih sorgawi, tetapi justru dipenuhi dengan konflik yang tiada henti.

Teks ini menempelak kita. Adakah di antara kita seperti Abner yang mewakili pasukan Isyboset dan Yoab dari pasukannya Daud? Mereka sejatinya adalah satu keluarga besar. Membutuhkan kerendahan hati seperti Abner yang mau berinisiatif untuk menghentikan peperangan. Dan apa sambutan Yoab? Sangat hangat. Dengan tangan terbuka menyambutnya.

Jikalau kita saat ini sedang “berperang”, dengan siapapun itu, apalagi bila dengan anggota keluarga sendiri, maukah kita dengan rendah hati berinisiatif melakukan perdamaian? Bukankah ini perintah firman Tuhan?

Doa
Ya Tuhan Yesus, ampuni aku bila tidak menjadi saksimu. Terus berkonflik dengan orang lain bahkan keluarga sendiri. Lembutkanlah hatiku, sehingga mau dengan rendah hati memulai untuk berdamai. Amin. (sb)

Renungan iGrow 13 September 2021 – Orang yang Diurapi Tuhan

ORANG YANG DIURAPI TUHAN
Bacaan Alkitab : 2 Samuel 1

Ayat Emas : 2 Samuel 1:11
Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga.

Kisah kematian Saul yang kita baca hari ini, berbeda dengan yang kita baca kemarin. Jikalau dalam 1 Samuel 31 dinyatakan bahwa raja pertama Israel itu mati dengan bunuh diri, tapi kali ini tidak. Upaya Saul bunuh diri gagal dan dilanjutkan oleh seorang muda Amalek ini. Ternyata penulis Kitab Tawarikh pun lebih mempercayai Kitab 1 Samuel 31 daripada kisah yang kita baca saat ini, terlihat dari disalinnya kisah itu dalam 1 Tawarikh 10. 

Terlepas benar atau tidaknya yang disampaikan oleh pemuda Amalek ini, Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mencelakai orang yang diurapi Tuhan. Mengingatkan boleh. Menegur kesalahan juga boleh. Tapi jangan mencelakai (buka kembali 1 Sam. 24 dan Kis. 18:26). Orang-orang yang diurapi oleh Tuhan adalah orang pilihan Tuhan. Mereka bertanggung jawab kepada Tuhan. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Daud terhadap Saul di hadapan orang Israel. 

Mari kita kasihi dan hormati orang-orang yang diurapi Tuhan. Meski kita pun tetap harus mengingatkan mereka bila ada yang perlu diingatkan. Jangan lupakan nama mereka di dalam setiap doa kita. Mereka sangat membutuhkan dukungan doa dari orang-orang yang dipimpinnya.

Doa
Ya Tuhan, terima kasih atas pemimpin kami, sebagai kepanjangan Tangan Tuhan. Amin. (sb)

Renungan iGrow 12 September 2021 – Akhir yang Memiluhkan

AKHIR YANG MEMILUHKAN
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 31

Ayat Emas : 1 Samuel 31:4
“Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.”

Saul. Di masa mudanya tidak ada yang lebih ganteng dari dirinya di antara orang Israel. Alkitab mendeskripsikan dirinya dengan detail, “namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya” (1 Samuel 9:2).  Oleh Samuel ia kemudian diurapi dan diangkat menjadi raja pertama atas Israel.

Hanya saja, keelokan fisiknya di mata manusia tidak berbanding lurus dengan keindahan spiritualnya di hadapan Tuhan. Keterpurukan rohaninya mencapai dasar ketika Roh Allah meninggalkan dia (1 Sam. 16:14). Bukannya berbalik kepada Tuhan, sebaliknya Saul makin menjauh dari hadirat Tuhan. Kekalahan dan kematiannya menggambarkan akhir hidup yang memiluhkan. Akhir hidup tanpa Tuhan.

Sungguh sangat menyedihkan jikalau hidup kita di dunia ini berakhir piluh. Perlulah kita membayangkan apa yang akan terjadi ketika tubuh kita terbujur kaku di dalam peti mati. Siapa saja yang akan hadir mengelilinginya? Acara apa saja yang akan dilakukan untuknya? Dihormati atau dicaci? Diingat-ingat atau segera dilupakan? Ketika kita tetap berada di dalam Tuhan Yesus, maka akhir hidup kita pun indah dan sangat berharga.

Doa
Tuhan, ijinkan kami suatu hari nanti menutup usia hidup kami dengan catatan yang indah dan berharga. Amin. (JeRu)

Renungan iGrow 11 September 2021 – Menaikan Level Iman

MENAIKAN LEVEL IMAN
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 30

Ayat Emas : 1 Samuel 30:6
“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

Kini Daud dalam situasi lain yang sangat terjepit. Sama dengan yang lainnya, Daud kehilangan keluarganya. Serangan orang Amalek telah meluluhlantakkan pemukiman di mana mereka tinggal selama ini. Istri dan anak-anak mereka ditawan oleh orang Amalek. Puncak kemarahan dan kepedihan hati pengikutnya bukan kepada Amalek tapi kepada Daud, karenanya mereka ingin melempari Daud dengan batu. Tapi, lihatlah reaksi Daud, “ia menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

Kata “menguatkan” mengindikasikan bahwa Daud membuat dirinya lebih kuat mempercayai Allahnya. Situasi terjepit menjadi kesempatan bagi Daud untuk lebih beriman. Level imannya meningkat ketika persoalan berat dihadapinya. Alih-alih tawar hati, justru Daud tambah kuat imannya kepada Tuhan.

Dalam hidup ini, kita kerap menghadapi situasi pelik nan menjepit. Jadikan kala itu sebagai kesempatan agar iman kita meningkat ke level yang lebih tinggi. Bukan menjadi pedih dan tawar hati namun kesulitan hidup menjadi sarana untuk menguatkan kepercayaan kita kepada TUHAN, Allah kita. Yakinlah, Ia tetap bekerja sekalipun di masa terkelam hidup kita.

Doa
Ya Tuhan, kuatkan kepercayaan kami kepada-Mu di kala kami menghadapi situasi sulit dan pelik.  Amin. (JeRu)

Renungan iGrow 10 September 2021 – Campur Tangan Tuhan

CAMPUR TANGAN TUHAN
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 29

Ayat Emas : 1 Samuel 29:11
“Lalu bangunlah Daud dan orang-orangnya pagi-pagi untuk berjalan pulang ke negeri orang Filistin, sedang orang Filistin itu bergerak maju ke Yizreel.”

Daud tak jadi berperang melawan bangsanya sendiri. Bayangkan, ia dan pasukannya berhadap-hadapan dengan Saul, Yonatan, dan seluruh rakyat Israel. Tuhan dengan cara-Nya menghindarkan perang saudara. Ihwal ini terjadi ketika Raja Akhis mengajak Daud, yang sudah dianggap teman, bersekutu untuk menyerang Saul dan pasukan Israel. Namun, tentara Filistin meragukan kesetiaan Daud kepada Raja Akhis. Keraguan tentara Filistin menyebabkan Daud akhirnya disuruh mundur dari bagian yang berperang melawan Saul dan pasukannya.

Peperangan ini sesungguhnya adalah dilematis bagi Daud. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan kesetiaan perkawanan dengan Raja Akhis yang telah menampungnya selama kala pelarian. Di sisi lain, ia harus berperang dengan bangsanya, yang kelak akan dipimpinnya. Namun, dengan kedaulatan-Nya, Allah menghindarkan Daud dari peperangan yang tidak diinginkan.

Dalam kehidupan kita, sering kali Tuhan juga campur tangan dalam situasi pelik yang sedang kita hadapi. Di tengah keadaan yang seperti “makan buah simalakama” justru Tuhan memberikan jalan keluar baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Asal kita percaya, Dia pasti memberi solusi yang mengagetkan kita.

Doa
Ya Tuhan, ampunilah kami karena sering kali mencari jalan keluar dengan pikiran kami yang terbatas ini. Amin. (JeRu)

Renungan iGrow 9 September 2021 – Tak Pernah Terlambat

TAK PERNAH TERLAMBAT
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 28

Ayat Emas : 1 Samuel 28:6
“Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.”

Ada seorang pendeta tua yang berdasarkan pengalaman hidupnya berkata bahwa Tuhan itu punya 3 speed dalam menjawab doa, yaitu: 1) cepat, 2) sedang, dan 3) lambat. Dan dia memberi kalimat kunci, “Tuhan tidak pernah terlambat menjawab doa.” Tentu saja ini hanyalah pengalaman seseorang yang mungkin perlu dikaji. Tapi perlu kita ingat bahwa Tuhan punya kedaulatan dan Dia tidak pernah terlambat menjawab doa.

Bagaimana dengan Saul, tokoh kita di pasal ini, terlambatkah Tuhan menjawab doa? Saul tidak sabar menunggu jawaban Tuhan, ketidaksabarannya membuat dia jatuh ke dalam dosa. Saul meragukan kesanggupan Tuhan dan dia beralih memanggil peramal untuk memberinya solusi atas kegalauan dan ketakutannya. Akibatnya tragis, dia tidak memperoleh bagian dari Tuhan, bahkan Tuhan menolak dan meninggalkannya.

Bagi kita yang menanti jawaban Tuhan atas doa kita, penundaan jawaban bisa jadi adalah kesempatan mengevaluasi dan memperbaiki hati dan hidup kita. Mari bersabar, yakinlah bahwa Dia tidak pernah terlambat untuk menolong kita. Tuhan pasti menjawab doa kita.

Doa
Selidiki hati kami ya Tuhan, ajari kami memiliki hati seperti-Mu dan terus percaya Engkau berkuasa menjawab doa kami. Amin. (Win)

Renungan iGrow 8 September 2021 – Habisi “Musuhmu”

HABISI MUSUHMU
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 27

Ayat Emas : 1 Samuel 27:9
“Apabila Daud memusnahkan negeri itu, seorang pun tidak dibiarkannya hidup, baik laki-laki maupun perempuan; ia merampas kambing domba, lembu, keledai, unta dan pakaian, kemudian pulanglah ia dan kembali kepada Akhis.”

Daud semakin terjepit. Kondisinya tak memungkinkan untuk hidup leluasa, bahkan bila tak melarikan diri jauh dari Saul, Daud menduga bisa akan binasa di tangannya. Akhirnya dia melarikan diri ke daerah Filistin, tepatnya ke kota Gat.

Ada dua hal reflektif yang bisa kita dapatkan dari bacaan kita hari ini. Pertama, kita melihat penyertaan Tuhan kepada Daud, orang pilihannya. Bagaimana Tuhan memakai bangsa yang pernah menjadi musuh dari Israel, dipakai menolong Daud. Tuhan bisa memakai apa saja menolong orang-orang pilihan-Nya.

Yang kedua adalah dari teks yang kita jadikan ayat emas hari ini. Bagaimana Daud dan pasukannya menyerbu habis orang Gesur, Girzi dan Amalek yang notabene adalah orang-orang yang suka merampok penduduk di sekitar mereka. Penganggu, pengacau, yang bisa sewaktu-waktu Daud dan rombongannya akan menjadi korban oleh mereka. Musuh seperti ini dihabisi, tanpa sisa. Apa musuh kita saat ini? Godaan untuk mendosa. Apakah kita sungguh-sungguh mematikan musuh kita? Jangan-jangan ada yang masih kita sayang, karena kita ‘menikmati” di sana. Mari kita bertobat.

Doa
Tuhan Yesus, mampukanlah aku untuk menjadi pribadi yang benci dosa. Dengan Sungguh-sungguh. Amin. (sb)

Renungan iGrow 7 September 2021 – Membalas Kejahatan

MEMBALAS KEJAHATAN
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 26

Ayat Emas : 1 Samuel 26:9b
Tetapi kata Daud kepada Abisai: “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?”

Memperhatikan konflik Saul vs Daud yang tiada henti, ada sesuatu yang menarik kita pelajari. Daud adalah orang yang lebih muda. Usia muda kerap digambarkan sebagai usia yang belum stabil, masih emosional, dan tak berpikir panjang. Tapi teks ini mencelikkan kita, bahwa yang muda tak selamanya tak bisa bertindak dewasa. Kepada seniornya, Daud yang terus dikejar-kejar dan diburu nyawanya, justru tak mau mencelakai alias membalas kejahatan Saul dengan menuruti kata hatinya. Daud mengajarkan kepada kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Apalagi Saul adalah orang yang diurapi oleh Tuhan (ayat 9 dan 11). Kiranya Allah yang berdaulat atas Saul (ayat 10). Itulah Daud.

Bukankah kadang kita geram dengan orang yang berlaku jahat atas kita? Kita tergoda membalas dengan lebih keras. Tapi hari ini kita diingatkan oleh Daud, dengan memberi ruang Tuhan yang menyelesaikan masalah kita dengan orang lain. Bukan kita yang bertindak.

Tapi satu hal yang sangat penting untuk kita tanyakan kepada diri sendiri.  Jikalau kita saat ini sedang berkonflik, peran seperti apakah kita saat ini? Sebagai Saul ataukah Daud?

Doa
Ya Tuhan, berdaulatlah atas hidupku. Termasuk dalam semua permasalahanku dengan orang lain. Amin. (sb)

Renungan iGrow 6 September 2021 – Kembali pada Kehendaknya

KEMBALI PADA KEHENDAKNYA
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 25

Ayat Emas : 1 Samuel 25:32-33
Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.

Baru kemarin kita belajar bagaimana Daud begitu bijaksana dalam menghadapi situasi hidupnya. Tetapi hari ini kita membaca sebuah sisi lain Daud yang bertolak belakang. Maksud baiknya mengirim utusan kepada Nabal berbalas makian dan hinaan, “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu?” (ayat 10). Meresponi laku Nabal ini hati Daud sakit, sehingga dia ingin menuntut keadilan. Dengan amarah dia memimpin kira-kira empat ratus pengikutnya dan bersiap menuntut balas nyawa Nabal.

Di saat itu muncul Abigail, seorang perempuan bijak dan cantik. Mendengar kemarahan Daud, Abigail, istri Nabal itu, bergegas menemui Daud dan memohonkan ampun atas kesalahan suaminya. Juga, Abigail memperingatkan Daud untuk tidak mencari keadilan sendiri dengan melakukan hutang darah. Hati Daud tersentuh. Segera ia sadar lalu mengurungkan niatnya dan bersyukur kepada Tuhan (ayat 32). Pada akhirnya, Daud kembali ke tempat perlindungannya.

Tuhan dapat memakai berbagai cara untuk mengajar kita agar kembali kepada-Nya. Seperti halnya Abigail dikirimkan Tuhan bagi Daud, Tuhan juga bisa mengirim siapa saja untuk mengingatkan kita kembali kepada jalan-Nya.

Doa
Ya Tuhan, kami bersyukur Engkau tempatkan orang-orang baik yang mengingatkan kami terus ada dalam kehendak-Mu. Amin. (hyk)

Renungan iGrow 5 September 2021 – Menghormati Tuhan

MENGHORMATI TUHAN
Bacaan Alkitab : 1 Samuel 24

Ayat Emas : 1 Samuel 24:7
“Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah yang diurapi TUHAN.”

Masih karena takut kehilangan tahta kerajaannya, Saul mengejar Daud. Tujuannya hanya satu, yaitu membunuh Daud. Satu peristiwa terjadi seperti tertulis dalam pasal 24 ini, sangat jelas digambarkan di sana sebuah momentum yang sangat baik untuk Daud dapat menghabisi orang yang akan membunuhnya.

Berada di antara simpatisan setia yang menggunakan kalimat Allah “Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu” (ayat 5) untuk mendorong Daud segera “menyelesaikan” saja masalahnya, ia tidak goyah dan gegabah. Daud memilih bersikap hormat, ia sadar siapa Saul. Kejahatannya tidak membuat Daud hilang hormat kepada Saul yang diurapi Tuhan.

Kita dapat belajar dari sikap yang dipilih Daud. Pertama, ia tidak terburu-buru. Kedua, ia menghargai Saul sebagai pribadi yang diurapi Tuhan, Tuhan sebagai Pribadi yang mengurapi Saul inilah yang dia pandang. Ketiga, hal membalaskan kejahatan adalah hak Tuhan dan bukan miliknya (bdk. Roma 12:19). Suatu saat mungkin kita akan mengalami berbagai ketidakadilan, ingatlah bahwa Tuhan yang berhak atas pembalasan dan bukan kita. Tetaplah menebar kebaikan dan nikmati pengalaman iman yang indah bersama Tuhan.

Doa
Ya Tuhan, ajarilah kami memiliki hati yang penuh kasih, apapun kondisi yang sedang kami jalani. Baik ataupun buruk. Amin. (hyk)